Susu sebagai salah satu hasil komoditi peternakan, adalah bahan pakan yang menjadi sumber gizi atau protein hewani. Permintaan terhadap komoditi peternakan sebagai sumber protein hewani semakin meningkat akibat peningkatan jumlah penduduk dan kesadaran akan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pemerintah indonesia memiliki rencana untuk melakukan program swasembada daging, selanjutnya pemerintah akan menggalakan program swasembada susu dengan memperbaiki dan meningkatkan jumlah sapi perah yang ada dalam meningkatkan produksi susu. Luthan (2012) menyatakan saat ini populasi sapi perah indonesia hanya 603.000 ekor dan memproduksi susu dari total permintaan masyarakat terhadap susu dalam negeri, untuk memenuhi sisa permintaan susu dilakukan impor susu sebanyak 70%. Pembangunan subsektor peternakan bidang produksi susu dilakukan dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) di bidang budidaya sapi perah, sehingga dapat membantu mengurangi impor susu serta menjadikannya peluang usaha.
B. Sapi Perah
Sapi perah merupakan jenis sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan susu sebanyak-banyaknya diantara hasil samping lainnya. Sapi perah memiliki ciri-ciri seperti bentuk badan segitiga seperti baji, produksi susu tinggi, kulit tipis serta longgar, memiliki kapasitas perut yang besar sehingga dapat menampung pakan dalam jumlah banyak, kemampuan memproduksi susu tinggi, memiliki ambing yang besar serta tulang rusuk menonjol (Syarif dan Sumoprastowo, 1984). Ditambahkan oleh Blakely dan Bade (1998) bangsa sapi perah yang terkenal diantaranya yaitu Guernsey, Ayrshire, jersey dan Friesien Holstein. Bangsa-bangsa sapi perah yang terkenal umumnya berasal dari keturunan subspesies Bos premigenius dan Bos longifrons. Keturunan tersebut merupakan hasil seleksi yang telah dilakukan selama berabad-abad terhadap sifat-sifat tertentu, seperti: warna, produksi susu, adaptasi terhadap iklim, pakan dan hal lainnya (Mukhtar,2006).
B. Sapi Perah
Sapi perah merupakan jenis sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan susu sebanyak-banyaknya diantara hasil samping lainnya. Sapi perah memiliki ciri-ciri seperti bentuk badan segitiga seperti baji, produksi susu tinggi, kulit tipis serta longgar, memiliki kapasitas perut yang besar sehingga dapat menampung pakan dalam jumlah banyak, kemampuan memproduksi susu tinggi, memiliki ambing yang besar serta tulang rusuk menonjol (Syarif dan Sumoprastowo, 1984). Ditambahkan oleh Blakely dan Bade (1998) bangsa sapi perah yang terkenal diantaranya yaitu Guernsey, Ayrshire, jersey dan Friesien Holstein. Bangsa-bangsa sapi perah yang terkenal umumnya berasal dari keturunan subspesies Bos premigenius dan Bos longifrons. Keturunan tersebut merupakan hasil seleksi yang telah dilakukan selama berabad-abad terhadap sifat-sifat tertentu, seperti: warna, produksi susu, adaptasi terhadap iklim, pakan dan hal lainnya (Mukhtar,2006).
Sebagian besar sapi-sapi perah yang ada di Indonesia
adalah sapi bangsa Friesian Holstein
yang didatangkan dari negara-negara Eropa yang memiliki iklim sedang dengan
kisaran suhu termonetral rendah (13–25oC). Sapi peranakan Friesian Holstein merupakan persilangan
sapi Friesian Holstein dengan
sapi-sapi lokal di Indonesia. Friesian
Holstein yang dipelihara di Indonesia mempunyai ciri memiliki
sifat tenang, jinak, pejantan agak liar dan ganas, tidak tahan panas tetapi
lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, cenderung mempunyai
sifat merumput baik di padang rumput yang baik saja, bila kurang baik
kualitasnya daya meruputnya juga rendah, memiliki produksi susu yang tinggi
rata-rata 6000 liter perlaktasi (Makin, 2011). Produksi susu sapi FH pada
suhu lingkungan 18,3ºC-21,1ºC masih bisa bertahan tinggi sedangkan jika suhu
diatas ambang batas maka produksinya tidak maksimal, dari segi reproduksi sapi Friesian Holstein tergolong masak
kelaminnya lambat, hasil persilangan sapi Friesian
Holstein dengan sapi lokal dikenal dengan sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) yang populasinya
di indonesia sangat banyak (Mukhtar, 2006).
Sapi Friesian
Holstein juga dikenal dengan nama Fries
Holland atau sering disingkat FH. Di Amerika bangsa-bangsa sapi ini disebut
Holstein, dan di Negara-negara lain ada pula yang menyebut Friesien, akan
tetapi di Indonesia disebut FH. Sapi FH menduduki populasi terbesar, bahkan
hampir di seluruh dunia, baik di Negara-negara subtropics maupun tropis. Bangsa
sapi ini mudah beradaftasi di tempat baru. Di Indonesia populasi bangsa sapi FH
ini juga terbesar diantara bangsa sapi-sapi perah yang lain (Girisonta, 1995).
Ciri-ciri jenis sapi Friesian
Holstein (FH) diantaranya warna belakang hitam putih, pada kaki bagian
bawah dan juga ekornya berwarna putih, tanduknya pendek dan menghadap ke depan,
pada dahinya terdapat warna putih yang berbentuk segitiga. Sapi FH mempunyai
tubuh tegap dan sifat jinak sehingga mudah dikuasai, tidak tahan panas, lambat
dewasa, berat sapi jantan 850 kg dan sapi betina 625 kg, produksi susunya
4.500-5.000 liter perlaktasi (Muljana, 1987).
Kemampuan sapi perah Friesian Hostein dalam menghasilkan
susu lebih banyak dari pada bangsa sapi perah lainnya, yaitu mencapai 5982
liter per laktasi dengan kadar lemak 3,7 %. Daya merumput baik apabila digembalakan
pada padang rumput yang baik saja, sedangkan pada padang rumput yang kurang
baik sapi sukar beradaptasi (syarief, 1985).
C. Lokasi Peternakan dan Perkandangan
C. Lokasi Peternakan dan Perkandangan
Bangunan kandang sebainya di usahakan supaya sinar
matahari pagi bisa masuk kedalam kandang. Sebab sinar matahari pagi tidak
begitu panas dan banyak mengandung ultraviolet
yang berfungsi sebagai disinfektan dan membantu pembentukan vitamin D.
pembuatan kandang sebaiknya jauh dari pemukiman penduduk sehingga tidak
menggangu masyarakat baik dari limbah ternak maupun pencemaran udara
(Girisonta, 1980).
Sistem perkandangan merupakan aspek penting dalam usaha
peternakan sapi perah. Kandang bagi sapi perah. Kandang bagi sapi perah bukan
hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja, akan tetapi harus dapat memberikan
perlindungan dari segala aspek yang mengganggu (Siregar, 1993), seperti untuk
menghindari ternak dari terik matahari, hujan, angin kencang, gangguan binatang
buas, dan pencuri (Sugeng, 2001).
Ukuran kandang induk laktasi yaitu lebar 1,75 m dan
panjang 1,25 m serta dilengkapi tempat pakan dan minum, masing-masing dengan
ukuran 80 x 50 cm dan 50 x 40 cm. kandang yang baik mempunyai persyaratan,
seperti lantai yang kuat dan tidak licin, dengan kemiringan 50 dan
kemiringan atap 300 serta di sesuaikan dengan suhu dan kelembaban
lingkungan sehingga ternak akan merasa nyaman berada di dalam kandang serta
letak selokan dibuat pada gang tempat di belakang jajaran sapi (Girisonta,
1995).
Menurut konstruksinya kandang sapi perah dapat dibedakan
menjadi dua yaitu kandang tunggal yaitu terdiri satu baris dan kandang ganda
yang terdiri dari dua baris yang saling berhadapan (Head to Head) atau berlawanan (Tail
to Tail). Tipe kandang Head to Head di
rancang dengan satu gang bertujuan agar mempermudah saat pemberian pakan dan
efisien waktu, sedangkan tipe kandang Tail
to Tail terdapat dua gang dengan bertujuan untuk mempermudah saat
membersihkan feses (Anonimus, 2002).
Untuk bahan atap kandang dapat menggunakan genting, seng,
asbes, rumbia, ijuk/ alang-alang, dan sebagainya. Menurut (Girisonta, 1980)
bahan atap kandang yang ideal di negara tropis adalah genting. Dengan berbagai
pertimbangan yakni genting dapat menyerap panas, mudah di dapat, tahan lama,
antara genting yang satu dengan yang lain terdapat celah sehingga sirkulasi
udara cukup baik.
D. Pakan
D. Pakan
Bahan pakan adalah segala sesuatu
yang dapat diberikan pada ternak sebagai pakan, baik berupa bahan organik, baik
sebagian maupun keseluruhannya dapat dicerna dan tidak menyebabkangangguan
kesehatan pada ternak yang memakannya (Hartadi et al, 1986).
Pakan hijauan adalah
semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa
daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga (Sugeng, 2001). Pakan
penguat (konsentrat) adalah pakan yang mengandung serat kasar relatif rendah
dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan yang berasal
dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, dedak, katul, bungkil kelapa,
tetes, dan berbagai umbi. Fungsi pakan penguat adalah meningkatkan dan
memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah (Sugeng,
2001). Menurut Darmono (1992) konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung
serat kasar kurang dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil produk ikutan
pertanian atau dari pabrik dan umbi-umbian. Menurut Lubis (1992) pemberian
pakan pada ternak sebaiknya diberikan dalam keadaan segar.
Pakan menjadi salah satu faktor
penentu dalam usaha peternakan, baik terhadap produktivitas ternak, kualitas
produk peternakan, dan keuntungan pengusaha ternak. Oleh karenanya, program
pembangunan peternakan akan tercapai bila mendapat dukungan pemenuhan pakan
yang kualitas dan kuantitasnya terjamin sehingga pakan dapat dinyatakan sebagai
faktor dominan yang mempengaruhi efisiensi dan kesuksesan dalam usaha
peternakan baik secara jumlah maupun mutunya (Kuswandi, 2011).
Komponen-komponen utama bahan pakan sebenarnya dapat
dipenuhi dengan memanfaatkan potensi lokal, karena potensi bahan pakan lokal
mempunyai prospek ketersediaan yang tinggi dengan harga relatif murah, namun
komposisi zat makanan yang dikandungnya dapat bersaing dengan bahan yang
konvensional. Pemanfaatan bahan pakan lokal yang berbasis limbah dan
implementasi konsep zero-waste, akan
memberi dampak ramah lingkungan (Indraningsih dkk., 2010).
Limbah pertanian, perkebunan, agro-industri, limbah
pabrik, sisa hasil pemotongan hewan, dan sisa restoran dapat diolah menjadi
bahan pakan. Limbah tersebut diantaranya : pucuk tebu, jerami kedelai, batang
dan tongkol jagung, kulit singkong, kulit kopi, ampas tebu, jerami jagung,
jerami padi, dedak padi, bungkil sawit, ampas tahu, ampas tempe (Indraningsih
dkk., 2010).
Limbah yang ada di dalam negeri dan
cukup surplus, seperti pucuk tebu (wafer), bungkil inti sawit, onggok
atau gaplek, dan tongkol jagung atau silase jagung sudah dilakukan
ekspor, disamping itu juga banyak yang terbuang, seperti bahan pakan sumber
serta yang dibakar bahkan menjadi masalah dalam usaha tani dan
agroindustri, seperti jerami padi dan limbah sawit. Potensi pakan ini harus
dimanfaatkan sebagai basis pengembangan ternak, baik melalui suatu inovasi
teknologi, strategi pengembangan, atau kebijakan yang lebih berpihak dalam
menguatkan industri peternakan yang tangguh berbasis sumber daya lokal (Indraningsih
dkk., 2007).
![]() |
E. Tatalaksana Pemeliharaan
1. Pemeliharaan Pedet
Langkah pertama yang harus dilakukan terhadap
pedet yang baru lahir adalah membersihkan lendir di dalam rongga mulut dan
rongga hidung serta mengeringkan bulunya yang dapat dilakukan dengan baik oleh
induknya sendiri. Tali pusar dipotong pendek (2 cm dari pangkalnya) dan diberi
yodium segera mungkin setelah kelahiran untuk mencegah infeksi. Biarkan pedet
bersama induk selama 40-72 jam, agar pedet mendapat kolostrum dan menggertak
induk untuk mengeluarkan susu dengan mudah dan lancar. Selanjutnya pedet
ditempatkan dalam kandang khusus pedet serta dijaga supaya pedet dan alas
kandangnya tetap kering. Selanjutnya yang terpenting adalah pedet harus
mendapatkan kolostrum (yaitu susu yang dihasilkan oleh induk yang baru melahirkan)
yang dihasilkan induk hingga 1 minggu setelah kelahiran sebanyak tidak lebih
dari 6% berat badannya (Ellyza, 2011).
Pedet
yang baru lahir segera di berikan kolostrum, karena kolostrum mengandung zat
kebal immune lactoglobin yang
diberikan selama tujuh hari setelah dilahirkan. Jumlah susu yang di berikan
pada pedet jantan sekitar seper delapan dari bobot bada. Sedangkan untuk pedet
betina seper sepuluh dari bobot badan (Soedono, 1990).
Siregar
(1992) menyatakan bahwa, apabila pedet baru lahir belum dapat bernapas, harus
segera diberi pertolongan caranya adalah dengan menelentangkan pedet sedemikian
rupa sehingga kaki-kakinya menghadap ke atas, kemudian kedua kaki depan
dipegang dan digerak-gerakan dengan serentak ke atas dan kebawah berkali-kali
sampai terlihat tanda-tanda bernafas.
Pemisahan
pedet bisa dilakukan langsung setelah 24 jam untuk pedet yang sehat dan untuk
pedet yang kurang sehat setelah lahir maka dibiarkan hingga umur 2 sampai
dengan 3 hari bersama induknya (Syarief dan Sumoprastowo, 1985).
Pedet yang
baru saja lahir lebih baik dibiarkan bersama-sama induknya selama 24 sampai
dengan 36 jam untuk memberi kesempatan memperoleh susu pertama. Susu pertama itu
disebut kolostrum. Kolostrum adalah produksi susu awal yang berwarna kuning,
agak kental dan berubah menjadi susu biasa sesudah 4 sampai dengan 5 hari.
Kolostrum sangat penting bagi pedet yang baru saja
lahir, karena kolostrum kaya akan protein (casein) dibandingkan susu biasa, kolostrum
mengandung vitamin A,B2,C dan vitamin-vitamin yang sangat diperlukan pedet, kolostrum
mengandung zat penangkis (anti bodi) yang dapat memberi
kekebalan
bagi pedet terutama terhadap bakteri E. coli penyebab scours.
Zat
penangkis tersebut misalnya immuglobin (Tillman, 1998).
Susu pengganti (milk replacer) adalah susu buatan untuk
menggantikan susu induk yang berasal dari bahan utama susu skim dengan
penambahan bahan-bahan yang berasal dari pengolahan ikan, buah, biji-bijian
tanaman pangan serta dilengkapi dengan vitamin dan mineral. Susu pengganti
diberikan ke pedet sebagai pengganti susu segar/susu induk selama periode
pra-sapih. Susu pengganti harus dibuat dengan bahan dan cara tertentu sehingga
memiliki kandungan nutrien serta mempunyai sifat fisik, khemis dan biologis
yang mirip dengan susu segar (Musofie et al., 2000).
Pemotongan tanduk juga penting dilakukan. Pada beberapa kasus,
putting sapi perah bias berjumlah lebih dari 4. Kelebihan putting ini harus
dihilangkan bila anak sapi telah berumur 1-2 bulan. Kolostrum harus sesegera
mungkin diberikan pada pedet yang baru lahir agar lebih cepat mendapatkan
antibody. Pemberiannya sekitar 6% dari berat lahir selama 6 jam setelah lahir
atau tidak lebih dari 4% berat lahir per pemberian. Kolostrum diberikan
kira-kira sampai lima hari setelah dilahirkan. Selanjutnya, pedet diberi susu
normal dengan ketentuan pemberian setelah kolostrum, yaitu minggu ke-2 sebanyak
8% dari bobot lahir, minggu ke-3 sebanyak 9% dari bobot lahir, minggu ke-4
sebanyak 10% dari bobot lahir, minggu ke-5 sebanyak 8% dari bobot lahir, dan
minggu ke-6 sebanyak 5% dari bobot lahir. Penyapihan pada pedet tergantung
berat bedan dan kondisi pedet (Susilorini, 2009).
2. Penanganan
Sapi Dara
Sapi dara merupakan sapi betina umur 1-2
tahun atau lebih dan belum beranak. Pememliharaan dan pemberian pakan pada sapi
perah dara sebelum beranak sangat memepengaruhi pertumbuhan. Pertumbuhan
sapi-sapi dara sebelum beranak yang pertama tergantung sekali pada cara
pemeliharaan dan pemberian makanannya. Kerap kali para peternak mengabaikan
pemeliharaan anak-anak sapi setelah anak sapi tersebut tidak menerima susu
lagi, sehingga dengan demikian pertumbuhan sapi-sapi dara akan
terhambat. Sapi-sapi betina muda akan tumbuh terus dengan
baik sampai umur 5 tahun, bila pemeliharaan dan makanan yang
diberikan pada masa, pertumbuhan ini tidak baik maka pada waktu
sapi-sapi betina beranak untuk pertama kalinya besar badannya tak
dapat mencapai ukuran yang normal dan hewan itu akan tetap
kecil, disamping itu umur beranak yang pertamanya akan terlambat sampai
umur 3 tahun atau lebih keadaan ini banyak terdapat di Indonesia.
Juga dalam hal produksi susunya tak akan sesuai seperti yang
diharapkan. Karena itu perhatian haruslah banyak ditujukan pula
pada pertumbuhan sapi-sapi dara dengan selalu memperhatikan makanannya
baik kualitas maupun kuantitasnya, agar supaya tetap
mempertahankan kecepatan tumbuhnya. Selain hijauan anak-anak sapi
diberikan pula makanan penguat (Soetarno, 2003).
Setelah umur sapi dara 12 bulan, akan tumbuh
baik apabila hijauan yang diberikan berkualitas baik, jadi perlu diusahakan
sebelum umur 12 bulan sapi harus memiliki nafsu makan yang kuat, rumen bagus
dan sehat. Apabila pakan yang
diberikan baik, sapi dara menunjukkan birahi pertama sekitar 9-10 bulan.
Adakalanya apabila pakan kurang baik sapi tidak menunjukkan birahi sampai umur
20 bulan atau lebih. Setelah umur 12 bulan meskipun menunjukkan tanda birahi
sapi belum cukup umur untuk dikawinkan. Perkawinan akan dilakukan setelah sapi
umur 15 bulan dengan berat mencapai. Apabila sapi dara sudah umur 15 bulan dan
berat badan 350 kg dan menunjukkan tanda-tanda minta kawin yaitu : vulva 3A,
gelisah, sering menguak, menaiki sapi lain, diam waktu dinaiki sapi lain,
itulah saat yang tepat untuk dikawinkan (Soetarno, 2003).
3. Penanganan Sapi Kering
Soedono
(1990) menyatakan bahwa masa kering idea yaitu 8–9 minggu atau 56–63 hari.
Pengeringan merupakan suatu masa dimana sapi perah tidak diperah susunya sama
sekali. Caranya dengan pengurangan pakan konsentrat dan pemerahan berselang.
4. Penanganan
Sapi laktasi
Soedono
(1990) menyatakan bahwa sapi yang sedang berproduksi hendaknya dibersihkan dan
dimandikan supaya menghasilkan susu yang lebih bersih dan sapi lebih sehat.
Kegiatan memandikan sapi yang baik adalah sebanyak dua kali dalam sehari yaitu
pada pagi dan sore hari selama di adakannya pemerahan.
Sapi perah dewasa dilakukan exercise (gerak jalan), pemeliharaan
kuku, kebersihan badan, dan perlu diperhatikan perkembangan reproduksi seperti
masa birahi, masa perkawinan, dan beranak. Pembuatan catatan meliputi catatan
reproduksi dan kesehatan. Sapi perah yang umumnya dimanfaatkan sebagai indukan
adalah sapi FH (Fries Holland) dengan
ciri-ciri warna bulu putih dengan bercak hitam, berat badan betina dewasa 625
kg, pembawaan betina tenang dan jinak, daya merumput (Grazing ability) hanya baik pada pasture yang baik saja, dewasa
kelamin sapi FH agak lambat, umur pertama kali dikawinkan 15-18 bulan, produksi
susu relatif lebih tinggi dibanding sapi perah lainnya.
F. Manajemen
Pemerahan
Syarif dan Sumoprastowo (1990) mengemukakan bahwa
metode pemerahan yang baik adalah whole hand karena puting tidak
akan menjadi panjang dan susu yang keluar dapat lebih banyak. Metode stripping pada
awal pemerahan ditujukan agar air susu di dalam cistern atau
rongga susu dapat turun ke bawah. Sedangkan pada akhir pemerahan untuk
mengeluarkan sisa-sisa susu yang masih terdapat pada puting guna mencegah
terjadinya mastitis.
Pemerahan merupakan tugas peternak yang terpenting dalam
suatu usaha peternakan sapi perah, dan harus dilaksanakan secara baik agar
hasilnya maksimal. Pemerahan pada umumnya masih tradisional atau manual yaitu
masih menggunakan tangan dan jari-jari tangan manusia, sedangkan pemerahan
secara mekanik masih jarang dijumpai, hal ini karena masih rendahnya
pengetahuan serta jumlah pemilikan sapi perah yang berkisar antara 2-5 ekor
per-peternak. Tahap pemerahan ada tiga yaitu pra-pemerahan, pelaksanaan
pemerahan dan pasca pemerahan. Sebelum pemerahan alat-alat yang diperlukan
untuk pemerahan susu harus disiapkan terlebih dahulu, Alat-alat sebelumnya
dicuci menggunakan air bersih bila perlu menggunakan deterjen dan dibilas
dengan air panas (60-70oC) untuk membunuh mikroba dan melarutkan
lemak susu yang menempel pada alat-alat, selanjutnya alat-alat
dikeringkan.Tahap-tahap persiapan pemerahan meliputi menenangkan sapi,
membersihkan kandang, membersihkan bagian tubuh sapi, mengikat ekor, mencuci
ambing dan puting (Sudono et al, 2003).
Ambing sapi dibersihkan dan dicuci sebelum di perah bertujuan untuk menstimulir
keluarnya air susu, mengurangi kontaminasi bakteria pada air susu, serta mengurangi
timbulnya mastitis karena mastitis dapat mengurangi produksi susu
hingga 20-30% (Makin 2011).
Umumnya pemerahan dilakukan sebanyak dua kali sehari,
yakni pada pagi dan sore hari tetapi dapat pula diperah tiga sampai empat kali
tergantung dengan kemampuan produksi sapi perah itu sendiri, pakan serta
pemeliharaannya (Makin, 2011). Pemerahan pada sapi dapat dilakukan dengan
menggunakan tangan maupun dengan mesin pemerah (Prihadi, 1996).
Penanganan susu pasca panen bisa menyebabkan terjadinya
pencemaran pada susu apabila penanganannya tidak tepat dan benar. Hal tersebut
karena alat-alat yang digunakan tidak bersih, seperti ember dan saringan yang
kotor, milk can yang tidak dicuci bersih, waktu penanganan yang
lambat serta tempat penanganan yang berdekatan dengan kandang (Sudono et al, 2003). Kelemahan persusuan di
Indonesia yaitu penanganan pasca panen. Padahal untuk meningkatkan kulitas cukup
menggunakan konsep ABCD (asli, bersih, cepat, dingin) artinya susu harus asli,
dari sapi tanpa campuran bahan lain, bersih baik proses pemerahan maupun
lingkungan perkandangan, cepat disetorkan ke tempat penampungan setelah proses
pemerahan berlangsung dan dan terakhir sesegera mungkin susu didinginkan (4ºC)
dikoperasi.
Referensi
Referensi
- Departemen pertanian, Direktorat jendral peternakan dan kesehatan hewan. 2012. Pedoman teknis pengembangan budidaya sapi perah. Jakarta
- Eddlemen, H. 2000, “Composition Human,Cow and Goat”, http://www.goat-world.com/articles/goatmilk/colostrum.html,200.
- Hafez, E.S.E. edtion. 1980. Reproduction in Farm Animals. Fourth Lea and Febiger, Philadelphia, USA.
- Mudtidjo, B. A., 1990. Beternak Sapi Potong. Kasinus. Yogyakarta
- Sudono, A., R.F. Rosdiana, dan B. S. Setiawan., 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
- Suryahadi, et. Al. 1977. Manajemen Pakan Sapi Perah. Kerjasama Fakultas Peternakan Institut Pertnian Bogor dengan GKSI – CCA Kanada. Bogor.
- Syarief, M. Z dan C. D. A Sumoprastowo. 1990. Ternak Perah. C. V Yasaguna. Jakarta.
- Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 1 untuk SMK/ oleh Caturto Priyo Nugroho . Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
- Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 2 untuk SMK/ oleh Caturto Priyo Nugroho ---- Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
- Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 3 untuk SMK/ oleh Caturto Priyo Nugroho ---- Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
- Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo. 1984. Ternak Perah. CV. Yasaguna. Jakarta.
- Makin, M. 2011. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah. Graha Ilmu, Yogyakarta
- Mukhtar, A. 2006. Ilmu Produksi Ternak Perah. UNS Press. Surakarta.
- Girisonta. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah .Kanisius. Yogyakarta.
- Muljana, B.A. 1987. Pemeliharaan dan Kegunaan Ternak Perah. CV.Aneka Ilmu. Semarang.
- Syarief, M.Z. dan Sumoprastowo, C.D.A. 1985. Ternak Perah. CV.Yasaguna.Jakarta.
- Sugeng, Y.B. 2001. Laporan Feasibility
Study Sapi Perah di Daerah Sumatera
Utara, Survey Agro Ekonomi. Penebar Swadaya. Jakarta.Anonimus . 2002. Beternak Sapi Perah. Kanisius. Yogyakarta.Hartadi, et al., 1986. Tabel – Tabel Dari Komposisi Bahan Makanan TernakUntuk Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Kuswandi, 2011. Sumber bahan pakan lokal ternak ruminansia. Pusat penelitian dan pengembangan peternakan.Bogor.Indraningsih, Y.Sani, R.Widiastuti dan E. Masbulan, 2007., Pemanfaatan limbah pertanian organik untuk meningkatkan kualitas produk ternak melalui sistem pertanian terpadu. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.Indraningsih, R. Widiastuti dan Y. Sani, 2010. Limbah pertanian dan perkebunansebagai pakan ternak. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.Sudono et al, A., F. Rosdiana dan B. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Jakarta: Agromedia Pustaka.Prihadi. 1996. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi Perah. Penebar Swadaya. Jakarta.Hadiwiyoto, S. 1983. Tekhnik Uji Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Liberty.Yogyakarta.Sugeng. 2001. Sapi Perah Daerah Tropis. Erlangga.JakartaSiregar, S. 1992. Sapi Perah : Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Cetakan Kedua. Penebar Swadaya, Bogor. Hal. 4, 25, 49, 115, 141.Soedono, A. 1990. Pedoman Beternak Sapi Perah. Edisi Kedua. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta. Hal 7, 35, 48.Syarief, M. dan Sumoprastowo, R.M., 1990.Ternak Perah. CV Yasaguna. Jakarta.Tilman, A.D, H Hartadi, S Reksohadiprodjo, S Prawirokoesumo dan SLebdosoekodjo., 1998. Ilmu Makanan ternak Dasar. GadjahMada University Press. Yogyakarta.Soetarno, T. 1999. Manajemen Ternak Perah. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.Ellyza. 2011. Manajemen Sapi Perah. Graha Ilmu. Jogjakarta.Musofie, A., N. Kusumawardani dan Aryogi. 1992. Pengaruh penggunaan susu skim dalam milk replacer terhadap pertumbuhan pedet sapi perah. Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak Grati. Sub Balai Penelitian Ternak Grati. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.Susilorini,T.E. 2009. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya. Jakarta.Anonimus. 1995. Pengolahan Ternak Sapi Pedaging. fp-usu , Medan.Sudono, A; Rusdiana, R.F; dan Setiawan, B.S. 2004. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.Trobos. 2001. Fine Compost Lebih Irit dan Menguntungkan. Trobo no 24 / tahun 11. Jakarta.
2.





This comment has been removed by the author.
ReplyDelete