Monday, February 11, 2019

Pemeliharaan Sapi Perah

A. Latar Belakang  
    Susu sebagai salah satu hasil komoditi peternakan, adalah bahan pakan yang menjadi sumber gizi atau protein hewani. Permintaan terhadap komoditi peternakan sebagai sumber protein hewani semakin meningkat akibat peningkatan jumlah penduduk dan kesadaran akan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah indonesia memiliki rencana untuk melakukan program swasembada daging, selanjutnya pemerintah akan menggalakan program swasembada susu dengan memperbaiki dan meningkatkan jumlah sapi perah yang ada dalam meningkatkan produksi susu. Luthan (2012) menyatakan saat ini populasi sapi perah indonesia hanya 603.000 ekor dan memproduksi susu dari total permintaan masyarakat terhadap susu dalam negeri, untuk memenuhi sisa permintaan susu dilakukan impor susu sebanyak 70%. Pembangunan subsektor peternakan bidang produksi susu dilakukan dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) di bidang budidaya sapi perah, sehingga dapat membantu mengurangi impor susu serta menjadikannya peluang usaha.

B. Sapi Perah 

   Sapi perah merupakan jenis sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan susu sebanyak-banyaknya diantara hasil samping lainnya. Sapi perah memiliki ciri-ciri seperti bentuk badan segitiga seperti baji, produksi susu tinggi, kulit tipis serta longgar, memiliki kapasitas perut yang besar sehingga dapat menampung pakan dalam jumlah banyak, kemampuan memproduksi susu tinggi, memiliki ambing yang besar serta tulang rusuk menonjol (Syarif dan Sumoprastowo, 1984). Ditambahkan oleh Blakely dan Bade (1998) bangsa sapi perah yang terkenal diantaranya yaitu Guernsey, Ayrshire, jersey dan Friesien Holstein. Bangsa-bangsa sapi perah yang terkenal umumnya berasal dari keturunan subspesies Bos premigenius dan Bos longifrons. Keturunan tersebut merupakan hasil seleksi yang telah dilakukan selama berabad-abad terhadap sifat-sifat tertentu, seperti: warna, produksi susu, adaptasi terhadap iklim, pakan dan hal lainnya (Mukhtar,2006).
Sebagian besar sapi-sapi perah yang ada di Indonesia adalah sapi bangsa Friesian Holstein yang didatangkan dari negara-negara Eropa yang memiliki iklim sedang dengan kisaran suhu termonetral rendah (13–25oC). Sapi peranakan Friesian Holstein merupakan persilangan sapi Friesian Holstein dengan sapi-sapi lokal di Indonesia. Friesian Holstein yang dipelihara di Indonesia mempunyai ciri memiliki sifat tenang, jinak, pejantan agak liar dan ganas, tidak tahan panas tetapi lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, cenderung mempunyai sifat merumput baik di padang rumput yang baik saja, bila kurang baik kualitasnya daya meruputnya juga rendah, memiliki produksi susu yang tinggi rata-rata 6000 liter perlaktasi (Makin, 2011). Produksi susu sapi FH pada suhu lingkungan 18,3ºC-21,1ºC masih bisa bertahan tinggi sedangkan jika suhu diatas ambang batas maka produksinya tidak maksimal, dari segi reproduksi sapi Friesian Holstein tergolong masak kelaminnya lambat, hasil persilangan sapi Friesian Holstein dengan sapi lokal dikenal dengan sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) yang populasinya di indonesia sangat banyak (Mukhtar, 2006).
Sapi Friesian Holstein juga dikenal dengan nama Fries Holland atau sering disingkat FH. Di Amerika bangsa-bangsa sapi ini disebut Holstein, dan di Negara-negara lain ada pula yang menyebut Friesien, akan tetapi di Indonesia disebut FH. Sapi FH menduduki populasi terbesar, bahkan hampir di seluruh dunia, baik di Negara-negara subtropics maupun tropis. Bangsa sapi ini mudah beradaftasi di tempat baru. Di Indonesia populasi bangsa sapi FH ini juga terbesar diantara bangsa sapi-sapi perah yang lain (Girisonta, 1995).
Ciri-ciri jenis sapi Friesian Holstein (FH) diantaranya warna belakang hitam putih, pada kaki bagian bawah dan juga ekornya berwarna putih, tanduknya pendek dan menghadap ke depan, pada dahinya terdapat warna putih yang berbentuk segitiga. Sapi FH mempunyai tubuh tegap dan sifat jinak sehingga mudah dikuasai, tidak tahan panas, lambat dewasa, berat sapi jantan 850 kg dan sapi betina 625 kg, produksi susunya 4.500-5.000 liter perlaktasi (Muljana, 1987).
Kemampuan sapi perah Friesian Hostein dalam menghasilkan susu lebih banyak dari pada bangsa sapi perah lainnya, yaitu mencapai 5982 liter per laktasi dengan kadar lemak 3,7 %. Daya merumput baik apabila digembalakan pada padang rumput yang baik saja, sedangkan pada padang rumput yang kurang baik sapi sukar beradaptasi (syarief, 1985).

C. Lokasi Peternakan dan Perkandangan 

    Bangunan kandang sebainya di usahakan supaya sinar matahari pagi bisa masuk kedalam kandang. Sebab sinar matahari pagi tidak begitu panas dan banyak mengandung ultraviolet yang berfungsi sebagai disinfektan dan membantu pembentukan vitamin D. pembuatan kandang sebaiknya jauh dari pemukiman penduduk sehingga tidak menggangu masyarakat baik dari limbah ternak maupun pencemaran udara (Girisonta, 1980).
Sistem perkandangan merupakan aspek penting dalam usaha peternakan sapi perah. Kandang bagi sapi perah. Kandang bagi sapi perah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja, akan tetapi harus dapat memberikan perlindungan dari segala aspek yang mengganggu (Siregar, 1993), seperti untuk menghindari ternak dari terik matahari, hujan, angin kencang, gangguan binatang buas, dan pencuri (Sugeng, 2001).
Ukuran kandang induk laktasi yaitu lebar 1,75 m dan panjang 1,25 m serta dilengkapi tempat pakan dan minum, masing-masing dengan ukuran 80 x 50 cm dan 50 x 40 cm. kandang yang baik mempunyai persyaratan, seperti lantai yang kuat dan tidak licin, dengan kemiringan 50 dan kemiringan atap 300 serta di sesuaikan dengan suhu dan kelembaban lingkungan sehingga ternak akan merasa nyaman berada di dalam kandang serta letak selokan dibuat pada gang tempat di belakang jajaran sapi (Girisonta, 1995).
Menurut konstruksinya kandang sapi perah dapat dibedakan menjadi dua yaitu kandang tunggal yaitu terdiri satu baris dan kandang ganda yang terdiri dari dua baris yang saling berhadapan (Head to Head) atau berlawanan (Tail to Tail). Tipe kandang Head to Head di rancang dengan satu gang bertujuan agar mempermudah saat pemberian pakan dan efisien waktu, sedangkan tipe kandang Tail to Tail terdapat dua gang dengan bertujuan untuk mempermudah saat membersihkan feses (Anonimus, 2002).
Untuk bahan atap kandang dapat menggunakan genting, seng, asbes, rumbia, ijuk/ alang-alang, dan sebagainya. Menurut (Girisonta, 1980) bahan atap kandang yang ideal di negara tropis adalah genting. Dengan berbagai pertimbangan yakni genting dapat menyerap panas, mudah di dapat, tahan lama, antara genting yang satu dengan yang lain terdapat celah sehingga sirkulasi udara cukup baik.

D. Pakan

    Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat diberikan pada ternak sebagai pakan, baik berupa bahan organik, baik sebagian maupun keseluruhannya dapat dicerna dan tidak menyebabkangangguan kesehatan pada ternak yang memakannya (Hartadi et al, 1986).
Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga (Sugeng, 2001). Pakan penguat (konsentrat) adalah pakan yang mengandung serat kasar relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, dedak, katul, bungkil kelapa, tetes, dan berbagai umbi. Fungsi pakan penguat adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah (Sugeng, 2001). Menurut Darmono (1992) konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil produk ikutan pertanian atau dari pabrik dan umbi-umbian. Menurut Lubis (1992) pemberian pakan pada ternak sebaiknya diberikan dalam keadaan segar.
Pakan menjadi salah satu faktor penentu dalam usaha peternakan, baik terhadap produktivitas ternak, kualitas produk peternakan, dan keuntungan pengusaha ternak. Oleh karenanya, program pembangunan peternakan akan tercapai bila mendapat dukungan pemenuhan pakan yang kualitas dan kuantitasnya terjamin sehingga pakan dapat dinyatakan sebagai faktor dominan yang mempengaruhi efisiensi dan kesuksesan dalam usaha peternakan baik secara jumlah maupun mutunya (Kuswandi, 2011).
Komponen-komponen utama bahan pakan sebenarnya dapat dipenuhi dengan memanfaatkan potensi lokal, karena potensi bahan pakan lokal mempunyai prospek ketersediaan yang tinggi dengan harga relatif murah, namun komposisi zat makanan yang dikandungnya dapat bersaing dengan bahan yang konvensional. Pemanfaatan bahan pakan lokal yang berbasis limbah dan implementasi konsep zero-waste, akan memberi dampak ramah lingkungan (Indraningsih dkk., 2010).
Limbah pertanian, perkebunan, agro-industri, limbah pabrik, sisa hasil pemotongan hewan, dan sisa restoran dapat diolah menjadi bahan pakan. Limbah tersebut diantaranya : pucuk tebu, jerami kedelai, batang dan tongkol jagung, kulit singkong, kulit kopi, ampas tebu, jerami jagung, jerami padi, dedak padi, bungkil sawit, ampas tahu, ampas tempe (Indraningsih dkk., 2010).
Limbah yang ada di dalam negeri dan cukup surplus, seperti pucuk tebu (wafer), bungkil inti sawit, onggok atau gaplek, dan  tongkol jagung atau silase jagung sudah dilakukan ekspor, disamping itu juga banyak yang terbuang, seperti bahan pakan sumber serta yang dibakar bahkan menjadi  masalah dalam usaha tani dan  agroindustri, seperti jerami padi dan limbah sawit. Potensi pakan ini harus dimanfaatkan sebagai basis pengembangan ternak, baik melalui suatu inovasi teknologi, strategi pengembangan, atau kebijakan yang lebih berpihak dalam menguatkan industri peternakan yang tangguh berbasis sumber daya lokal (Indraningsih dkk., 2007).  





E. Tatalaksana Pemeliharaan
     1. Pemeliharaan Pedet
    Langkah pertama yang harus dilakukan terhadap pedet yang baru lahir adalah membersihkan lendir di dalam rongga mulut dan rongga hidung serta mengeringkan bulunya yang dapat dilakukan dengan baik oleh induknya sendiri. Tali pusar dipotong pendek (2 cm dari pangkalnya) dan diberi yodium segera mungkin setelah kelahiran untuk mencegah infeksi. Biarkan pedet bersama induk selama 40-72 jam, agar pedet mendapat kolostrum dan menggertak induk untuk mengeluarkan susu dengan mudah dan lancar. Selanjutnya pedet ditempatkan dalam kandang khusus pedet serta dijaga supaya pedet dan alas kandangnya tetap kering. Selanjutnya yang terpenting adalah pedet harus mendapatkan kolostrum (yaitu susu yang dihasilkan oleh induk yang baru melahirkan) yang dihasilkan induk hingga 1 minggu setelah kelahiran sebanyak tidak lebih dari 6% berat badannya (Ellyza, 2011).
 Pedet yang baru lahir segera di berikan kolostrum, karena kolostrum mengandung zat kebal immune lactoglobin yang diberikan selama tujuh hari setelah dilahirkan. Jumlah susu yang di berikan pada pedet jantan sekitar seper delapan dari bobot bada. Sedangkan untuk pedet betina seper sepuluh dari bobot badan (Soedono, 1990).
Siregar (1992) menyatakan bahwa, apabila pedet baru lahir belum dapat bernapas, harus segera diberi pertolongan caranya adalah dengan menelentangkan pedet sedemikian rupa sehingga kaki-kakinya menghadap ke atas, kemudian kedua kaki depan dipegang dan digerak-gerakan dengan serentak ke atas dan kebawah berkali-kali sampai terlihat tanda-tanda bernafas.
Pemisahan pedet bisa dilakukan langsung setelah 24 jam untuk pedet yang sehat dan untuk pedet yang kurang sehat setelah lahir maka dibiarkan hingga umur 2 sampai dengan 3 hari bersama induknya (Syarief dan Sumoprastowo, 1985).
Pedet yang baru saja lahir lebih baik dibiarkan bersama-sama induknya selama 24 sampai dengan 36 jam untuk memberi kesempatan memperoleh susu pertama. Susu pertama itu disebut kolostrum. Kolostrum adalah produksi susu awal yang berwarna kuning, agak kental dan berubah menjadi susu biasa sesudah 4 sampai dengan 5 hari.
Kolostrum sangat penting bagi pedet yang baru saja lahir, karena kolostrum kaya akan protein (casein) dibandingkan susu biasa, kolostrum mengandung vitamin A,B2,C dan vitamin-vitamin yang sangat diperlukan pedet, kolostrum mengandung zat penangkis (anti bodi) yang dapat memberi
kekebalan bagi pedet terutama terhadap bakteri E. coli penyebab scours.
Zat penangkis tersebut misalnya immuglobin (Tillman, 1998).
Susu pengganti (milk replacer) adalah susu buatan untuk menggantikan susu induk yang berasal dari bahan utama susu skim dengan penambahan bahan-bahan yang berasal dari pengolahan ikan, buah, biji-bijian tanaman pangan serta dilengkapi dengan vitamin dan mineral. Susu pengganti diberikan ke pedet sebagai pengganti susu segar/susu induk selama periode pra-sapih. Susu pengganti harus dibuat dengan bahan dan cara tertentu sehingga memiliki kandungan nutrien serta mempunyai sifat fisik, khemis dan biologis yang mirip dengan susu segar (Musofie et al., 2000).
Pemotongan tanduk juga penting dilakukan. Pada beberapa kasus, putting sapi perah bias berjumlah lebih dari 4. Kelebihan putting ini harus dihilangkan bila anak sapi telah berumur 1-2 bulan. Kolostrum harus sesegera mungkin diberikan pada pedet yang baru lahir agar lebih cepat mendapatkan antibody. Pemberiannya sekitar 6% dari berat lahir selama 6 jam setelah lahir atau tidak lebih dari 4% berat lahir per pemberian. Kolostrum diberikan kira-kira sampai lima hari setelah dilahirkan. Selanjutnya, pedet diberi susu normal dengan ketentuan pemberian setelah kolostrum, yaitu minggu ke-2 sebanyak 8% dari bobot lahir, minggu ke-3 sebanyak 9% dari bobot lahir, minggu ke-4 sebanyak 10% dari bobot lahir, minggu ke-5 sebanyak 8% dari bobot lahir, dan minggu ke-6 sebanyak 5% dari bobot lahir. Penyapihan pada pedet tergantung berat bedan dan kondisi pedet (Susilorini, 2009).

      2. Penanganan Sapi Dara
  Sapi dara merupakan sapi betina umur 1-2 tahun atau lebih dan belum beranak. Pememliharaan dan pemberian pakan pada sapi perah dara sebelum beranak sangat memepengaruhi pertumbuhan. Pertumbuhan sapi-sapi dara sebelum beranak yang pertama tergantung sekali pada cara pemeliharaan dan pemberian makanannya. Kerap kali para peternak mengabaikan pemeliharaan anak-anak sapi setelah anak sapi tersebut tidak menerima susu lagi, sehingga dengan demikian pertumbuhan sapi-sapi dara akan terhambat. Sapi-sapi betina muda akan tumbuh terus dengan baik sampai umur 5 tahun, bila pemeliharaan dan makanan yang diberikan pada masa, pertumbuhan ini tidak baik maka pada waktu sapi-sapi betina beranak untuk pertama kalinya besar badannya tak dapat mencapai ukuran yang normal dan hewan itu akan tetap kecil, disamping itu umur beranak yang pertamanya akan terlambat sampai umur 3 tahun atau lebih keadaan ini banyak terdapat di Indonesia. Juga dalam hal produksi susunya tak akan sesuai seperti yang diharapkan. Karena itu perhatian haruslah banyak ditujukan pula pada pertumbuhan sapi-sapi dara dengan selalu memperhatikan makanannya baik kualitas maupun kuantitasnya, agar supaya tetap mempertahankan kecepatan tumbuhnya. Selain hijauan anak-anak sapi diberikan pula makanan penguat (Soetarno, 2003).
Setelah umur sapi dara 12 bulan, akan tumbuh baik apabila hijauan yang diberikan berkualitas baik, jadi perlu diusahakan sebelum umur 12 bulan sapi harus memiliki nafsu makan yang kuat, rumen bagus dan sehat. Apabila pakan yang diberikan baik, sapi dara menunjukkan birahi pertama sekitar 9-10 bulan. Adakalanya apabila pakan kurang baik sapi tidak menunjukkan birahi sampai umur 20 bulan atau lebih. Setelah umur 12 bulan meskipun menunjukkan tanda birahi sapi belum cukup umur untuk dikawinkan. Perkawinan akan dilakukan setelah sapi umur 15 bulan dengan berat mencapai. Apabila sapi dara sudah umur 15 bulan dan berat badan 350 kg dan menunjukkan tanda-tanda minta kawin yaitu : vulva 3A, gelisah, sering menguak, menaiki sapi lain, diam waktu dinaiki sapi lain, itulah saat yang tepat untuk dikawinkan (Soetarno, 2003).

     3. Penanganan Sapi Kering
   Soedono (1990) menyatakan bahwa masa kering idea yaitu 8–9 minggu atau 56–63 hari. Pengeringan merupakan suatu masa dimana sapi perah tidak diperah susunya sama sekali. Caranya dengan pengurangan pakan konsentrat dan pemerahan berselang.

     4. Penanganan Sapi laktasi
    Soedono (1990) menyatakan bahwa sapi yang sedang berproduksi hendaknya dibersihkan dan dimandikan supaya menghasilkan susu yang lebih bersih dan sapi lebih sehat. Kegiatan memandikan sapi yang baik adalah sebanyak dua kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari selama di adakannya pemerahan.
Sapi perah dewasa dilakukan exercise (gerak jalan), pemeliharaan kuku, kebersihan badan, dan perlu diperhatikan perkembangan reproduksi seperti masa birahi, masa perkawinan, dan beranak. Pembuatan catatan meliputi catatan reproduksi dan kesehatan. Sapi perah yang umumnya dimanfaatkan sebagai indukan adalah sapi FH (Fries Holland) dengan ciri-ciri warna bulu putih dengan bercak hitam, berat badan betina dewasa 625 kg, pembawaan betina tenang dan jinak, daya merumput (Grazing ability) hanya baik pada pasture yang baik saja, dewasa kelamin sapi FH agak lambat, umur pertama kali dikawinkan 15-18 bulan, produksi susu relatif lebih tinggi dibanding sapi perah lainnya. 


F. Manajemen Pemerahan

   Syarif dan Sumoprastowo (1990) mengemukakan bahwa metode pemerahan yang baik adalah whole hand karena puting tidak akan menjadi panjang dan susu yang keluar dapat lebih banyak. Metode stripping pada awal pemerahan ditujukan agar air susu di dalam cistern atau rongga susu dapat turun ke bawah. Sedangkan pada akhir pemerahan untuk mengeluarkan sisa-sisa susu yang masih terdapat pada puting guna mencegah terjadinya mastitis.
Pemerahan merupakan tugas peternak yang terpenting dalam suatu usaha peternakan sapi perah, dan harus dilaksanakan secara baik agar hasilnya maksimal. Pemerahan pada umumnya masih tradisional atau manual yaitu masih menggunakan tangan dan jari-jari tangan manusia, sedangkan pemerahan secara mekanik masih jarang dijumpai, hal ini karena masih rendahnya pengetahuan serta jumlah pemilikan sapi perah yang berkisar antara 2-5 ekor per-peternak. Tahap pemerahan ada tiga yaitu pra-pemerahan, pelaksanaan pemerahan dan pasca pemerahan. Sebelum pemerahan alat-alat yang diperlukan untuk pemerahan susu harus disiapkan terlebih dahulu, Alat-alat sebelumnya dicuci menggunakan air bersih bila perlu menggunakan deterjen dan dibilas dengan air panas (60-70oC) untuk membunuh mikroba dan melarutkan lemak susu yang menempel pada alat-alat, selanjutnya alat-alat dikeringkan.Tahap-tahap persiapan pemerahan meliputi menenangkan sapi, membersihkan kandang, membersihkan bagian tubuh sapi, mengikat ekor, mencuci ambing dan puting (Sudono et al, 2003). Ambing sapi dibersihkan dan dicuci sebelum di perah bertujuan untuk menstimulir keluarnya air susu, mengurangi kontaminasi bakteria pada air susu, serta mengurangi timbulnya mastitis karena mastitis dapat mengurangi produksi susu hingga 20-30% (Makin 2011).
Umumnya pemerahan dilakukan sebanyak dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari tetapi dapat pula diperah tiga sampai empat kali tergantung dengan kemampuan produksi sapi perah itu sendiri, pakan serta pemeliharaannya (Makin, 2011). Pemerahan pada sapi dapat dilakukan dengan menggunakan tangan maupun dengan mesin pemerah (Prihadi, 1996).
Penanganan susu pasca panen bisa menyebabkan terjadinya pencemaran pada susu apabila penanganannya tidak tepat dan benar. Hal tersebut karena alat-alat yang digunakan tidak bersih, seperti ember dan saringan yang kotor, milk can yang tidak dicuci bersih, waktu penanganan yang lambat serta tempat penanganan yang berdekatan dengan kandang (Sudono et al, 2003). Kelemahan persusuan di Indonesia yaitu penanganan pasca panen. Padahal untuk meningkatkan kulitas cukup menggunakan konsep ABCD (asli, bersih, cepat, dingin) artinya susu harus asli, dari sapi tanpa campuran bahan lain, bersih baik proses pemerahan maupun lingkungan perkandangan, cepat disetorkan ke tempat penampungan setelah proses pemerahan berlangsung dan dan terakhir sesegera mungkin susu didinginkan (4ºC) dikoperasi.


Referensi
  • Departemen pertanian, Direktorat jendral peternakan dan kesehatan hewan. 2012. Pedoman teknis pengembangan budidaya sapi perah. Jakarta
  • Eddlemen, H. 2000, “Composition Human,Cow and Goat”, http://www.goat-world.com/articles/goatmilk/colostrum.html,200.
  • Hafez, E.S.E. edtion.  1980.  Reproduction in Farm Animals. Fourth Lea and  Febiger, Philadelphia, USA.
  • Mudtidjo, B. A., 1990. Beternak Sapi Potong. Kasinus. Yogyakarta
  •  Sudono, A., R.F. Rosdiana, dan B. S. Setiawan., 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia             Pustaka. Jakarta.
  • Suryahadi, et. Al.  1977.  Manajemen Pakan Sapi Perah.  Kerjasama Fakultas Peternakan Institut Pertnian             Bogor dengan GKSI – CCA Kanada.  Bogor.
  • Syarief, M. Z dan C. D. A Sumoprastowo. 1990. Ternak Perah. C. V Yasaguna. Jakarta.
  • Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 1 untuk SMK/ oleh Caturto Priyo Nugroho . Jakarta: Direktorat             Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan     Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
  • Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 2 untuk SMK/ oleh Caturto Priyo Nugroho ---- Jakarta: Direktorat             Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
  • Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 3 untuk SMK/ oleh Caturto Priyo Nugroho ---- Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. 
  • Syarief, M. Z. dan C. D. A.  Sumoprastowo. 1984. Ternak Perah. CV. Yasaguna. Jakarta.
  • Makin, M. 2011. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah. Graha Ilmu, Yogyakarta
  • Mukhtar, A. 2006. Ilmu Produksi Ternak Perah. UNS Press. Surakarta.
  • Girisonta. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah .Kanisius. Yogyakarta.
  • Muljana, B.A. 1987. Pemeliharaan dan Kegunaan Ternak Perah. CV.Aneka Ilmu. Semarang.
  • Syarief, M.Z. dan Sumoprastowo, C.D.A. 1985. Ternak Perah. CV.Yasaguna.Jakarta.
  • Sugeng, Y.B. 2001. Laporan Feasibility Study Sapi Perah di Daerah Sumatera
    Utara, Survey Agro Ekonomi. Penebar Swadaya. Jakarta.
    Anonimus . 2002. Beternak Sapi Perah. Kanisius. Yogyakarta.
    Hartadi, et al., 1986. Tabel – Tabel Dari Komposisi Bahan Makanan Ternak
    Untuk Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
    Kuswandi, 2011. Sumber bahan pakan lokal ternak ruminansia. Pusat penelitian dan pengembangan peternakan.Bogor.
    Indraningsih, Y.Sani, R.Widiastuti dan E. Masbulan, 2007., Pemanfaatan limbah pertanian organik untuk meningkatkan kualitas produk ternak melalui sistem pertanian terpadu. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.
    Indraningsih, R. Widiastuti dan Y. Sani, 2010. Limbah pertanian dan perkebunan
    sebagai pakan ternak. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.
    Sudono et al, A., F. Rosdiana dan B. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Jakarta: Agromedia Pustaka.
    Prihadi. 1996. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi Perah.  Penebar Swadaya. Jakarta.
    Hadiwiyoto, S. 1983. Tekhnik Uji Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Liberty.
    Yogyakarta.
    Sugeng. 2001. Sapi Perah Daerah Tropis. Erlangga.Jakarta
    Siregar, S. 1992. Sapi Perah : Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Cetakan Kedua. Penebar Swadaya, Bogor. Hal. 4, 25, 49, 115, 141.
    Soedono, A. 1990. Pedoman Beternak Sapi Perah. Edisi Kedua. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta. Hal 7, 35, 48.
    Syarief, M. dan Sumoprastowo, R.M., 1990.Ternak Perah. CV Yasaguna. Jakarta.
    Tilman, A.D, H Hartadi, S Reksohadiprodjo, S Prawirokoesumo dan S
    Lebdosoekodjo., 1998. Ilmu Makanan ternak Dasar. Gadjah
    Mada University Press. Yogyakarta.
    Soetarno, T. 1999. Manajemen Ternak Perah. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
    Ellyza. 2011. Manajemen Sapi Perah. Graha Ilmu. Jogjakarta.
    Musofie, A., N. Kusumawardani dan Aryogi. 1992. Pengaruh penggunaan susu skim dalam milk replacer terhadap  pertumbuhan pedet sapi perah. Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak Grati. Sub Balai Penelitian Ternak Grati. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
    Susilorini,T.E. 2009. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya. Jakarta.
    Anonimus. 1995. Pengolahan Ternak Sapi Pedaging. fp-usu , Medan.
    Sudono, A; Rusdiana, R.F; dan Setiawan, B.S. 2004. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
    Trobos. 2001. Fine Compost Lebih Irit dan Menguntungkan. Trobo no 24 / tahun 11. Jakarta.
     
2.

1 comment: